Cerita Dibalik Smartphone Huawei yang Belum Bertaji

Cerita Dibalik Smartphone Huawei yang Belum Bertaji
Share this:

TIANTIANGAO.NET – Tak berlebihan jika diam-diam Huawei menjadi bintang industri smartphone global. Deretan angka yang dipublikasi berbagai lembaga riset ternama menunjukkan, tak ada yang mampu membendung kedigdayaan Huawei di industri ponsel, baik di dalam negeri maupun pasar global.

Tengok saja, laporan lembaga riset Canalys terbaru. Huawei masih menjadi kampiun pasar di pasar China. Menurut data Q2 2017, Huawei memimpin diposisi pertama dengan 22 juta pengiriman, diikuti oleh Oppo (21 juta pengiriman), dan Vivo (20 juta pengiriman). Sedangkan Xiaomi berhasil menduduki posisi keempat pada daftar tersebut.

Sukses mempertahankan posisi sebagai pemuncak di pasar domestik, sejalan dengan pencapaian market share yang melonjak di pasar global. Bahkan pada September 2017, lembaga riset Counterpoint melaporkan Huawei sukses mendepak Apple di posisi kedua. Ini adalah kali pertama, Huawei mencapai posisi tersebut.

Pencapaian itu terbilang fenomenal, mengingat persaingan di level elit terbilang sangat ketat. Apalagi posisi runner up itu direbut vendor dengan logo bunga berwarna merah menyala itu dalam waktu yang tak terlalu lama, sejak perusahaan memasuki bisnis ponsel satu dekade lalu.

Keberhasilan tersebut, tentu membuat Huawei semakin bersemangat. Vendor yang berbasis di Shenzen dan Shanghai itu, tinggal selangkah lagi mencapai ambisinya. Yakni, menaklukkan Samsung yang sejak lima tahun terakhir menjadi penguasa pasar ponsel global.

Richard Yu, CEO Huawei Consumer Business Group (CBG), mengatakan di tengah keadaan pasar yang sulit, Huawei CBG terus berkembang dengan kecepatan industri ICT yang terkemuka.

“Hal ini tak lain berkat loyalitas konsumen dan pendekatan Huawei yang berpusat pada inovasi, serta komitmen Huawei untuk membangun premium brand, memperkuat jaringan global dan menyediakan layanan berkualitas tinggi secara konsisten”, katanya.

Sayangnya, kedigdayaan Huawei di pentas global tak menjamin Huawei sukses di regional lain, seperti Indonesia. Faktanya, meski sudah hadir sejak 2013, pangsa pasar Huawei saat ini masih berkisar 2%. Padahal sebelumnya petinggi Huawei optimis pada akhir 2017, mereka bisa naik ke posisi tiga besar.

IDC menyebut bahwa Top 5 merk smartphone di kuartal kedua 2017 di Tanah Air adalah : Samsung (32%), Oppo (24%), Advan (9%), Asus (7%), dan Xiaomi (3%). Pada kuartal sebelumnya (Q1-2017), Top 5 merk ponsel di Indonesia adalah Samsung, Oppo, Asus, Advan, dan Lenovo.

Banyak yang mempertanyakan mengapa penguasaan pasar Huawei kalah dari tiga kompatriotnya, Oppo, Vivo dan Xiaomi, yang nota bene bukan perusahaan teknologi.


Tunjukkan kemahiran anda bersama member lainnya di CantikQQ dan Menangkan Jackpot Jutaan Rupiah
Dengan Tampilan Yang Cantik Akan Membuat Anda Nyaman Bermain di Situs Kami
1 ID dapat bermain 7Game Permainan. Game yang kami Sediakan Terjamin 100% Fair Play Dan Tanpa Bot
Menarik yang Disediakan CANTIKQQ, Yaitu : * BONUS TURN OVER 0.5% Setiap Minggunya * BONUS REFERRAL Terbesar 20% Seumur Hidup
Bank Support : BCA | MANDIRI | BNI | BRI | DANAMON | CIMB NIAGA
Link : mabesqq.com | jelitaqq.net


Padahal sebagai perusahaan kelas global dan pemimpin di banyak paten teknologi, sumber daya yang dimiliki oleh Huawei sudah lebih dari cukup untuk menaklukkan konsumen Indonesia.

Tengok saja dari sisi layanan, Huawei terus memperluas cakupan jaringan after sales service dengan tujuan untuk menjangkau lebih banyak konsumen di Indonesia. Hingga Mei 2016, vendor ini telah menyediakan 26 pusat layanan purna jual yang tersebar di 26 kota.

Selain pusat layanan, Huawei juga telah menyediakan lebih dari 300 collection points yang tersebar lebih dari 150 kota di seluruh Indonesia.

Pun dari sisi produk, line up smartphone Huawei terbilang lengkap. Dari low end, mid end, hingga kelas premium. Kualitas smartphone besutan Huawei tak kalah dari para kompetitornya itu. Malah dalam banyak hal, beragam fitur dan fasilitas yang ditawarkan deretan smartphone Huawei jauh melebihi produk pesaing.

Seperti flagship produk seperti Huawei P9 yang (akhirnya) diluncurkan akhir tahun lalu. Smartphone ini jauh mengungguli pesaing di Indonesia. menggunakan lensa dari merek ternama Leica, P9 mampu membuat standar baru bagi vendor smartphone lainnya dalam menghadirkan kualitas kamera smartphone. Bahkan dual kamera yang ditawarkannya mendorong tren baru yang diikuti oleh para kompetitor, termasuk Samsung.

Sayangnya, kehadiran P9 di Indonesia juga belum mampu mendongkrak prestasi Huawei. Apalagi, suksesornya P10 hingga kini juga belum nongol di pasar. Sebagai produk flagship, tampaknya pemenuhan TKDN hingga 30%, menjadi kendala utama Huawei.

Padahal, penjualan Huawei P9 dan P9 Plus di seluruh dunia melebihi 10 juta unit. Menjadikannya sebagai ponsel pintar pertama Huawei yang mampu memecahkan rekor penjualan sebesar itu.

Selain persoalan TKDN dan time to market yang terbilang lambat, aktifitas marketing Huawei juga tak seagresif para pesaingnya, seperti Oppo, Vivo, Samsung, maupun Asus. Bahkan dengan brand lokal sekalipun seperti Advan, marketing campaign Huawei tak semasif brand nomor tiga itu.

Hal ini tentunya menyebabkan brand awareness Huawei masih terbilang rendah. Padahal, kampanye pemasaran yang dibarengi dengan aktifitas public relation yang handal, merupakan kunci untuk memenangkan pertempuran di pasar yang terbilang sudah jenuh karena banyaknya pemain.

Di atas semua itu, persoalan Huawei sesungguhnya adalah ketidaksiapan dalam menggarap pasar terbuka (open market). Kita ketahui, pencapaian yang luar biasa di tataran global, sebenarnya lebih disebabkan aliansi Huawei dengan operator di negara bersangkutan (close market).

Program bundling yang dijalankan operator di Eropa dan Amerika, memungkinkan operator mengikat pelanggan sesuai periode tertentu. Hal ini menguntungkan Huawei sebagai mitra vendor handset.

Di Indonesia yang menganut open market, gaya pemasaran konservatif seperti yang lebih banyak menunggu pelanggan, seperti close market itu jelas tidak berlaku. Vendor dituntut untuk selalu adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen. Di sini Huawei belum menemukan irama yang pas. Wajar jika market share mereka tak pernah beranjak naik.

Tampaknya, Huawei perlu mengubah pendekatan sekaligus budaya kerja sesuai tuntutan pasar konsumen di Indonesia. Pencapaian di banyak negara tak bisa dijadikan patokan, karena konsumen di Tanah Air punya karakteristik tersendiri.

Apalagi pesaing seperti Oppo, telah menetapkan standar tersendiri dengan marketing campaign yang agresif dan high level. Serta channel distribution yang mampu menjangkau konsumen hingga ke pelosok.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *