Cerita Sex Filbert berbadan tambun dan cici mely

 

Cerita Sex Filbert berbadan tambun dan cici mely – Nama ku Filbert, Aku berumur 20 Tahun dan saat ini aku bekerja di group Barongsai di daerah ku. Cerita ini bermula pada saat aku dan team ku mendapat undangan bermain barongsai di sebuah perumahan mewah di medan.

Saya dan team saat itu sedang mempersiapkan pertunjukan barongsai, Pada saat mempertunjukan penampilan kami saya melihat seorang wanita sangat cantik,kebetulan pada saat itu saya bermain di posisi depan jadi saya bisa melihat di sekeliling para penonton. Setelah melihat wanita cantik itu saya semakin semangat memainkan peran saya. wanita itu sungguh cantik dan memiliki badan ideal, saya hampir tidak fokus pada permainanan saya karena memperhatikan wanita tersebut.

Setelah selesai bermain saya terkejut melihat wanita cantik itu menghampiri saya dan team. Wanita itu tersenyum sambil mengucapkan terima kasih pada kami, saya baru tau ternyata wanita tersebut yang mengundang kami dalam rangka ulang tahun wanita tersebut yang ke 21 tahun,singkat cerita kami pun berkenalan, ternyata wanita tersebut bernama Mely.

Cerita Sex Filbert berbadan tambun dan cici mely

Saya bersalaman dengan ci mely dan perasaan saya pun jadi tak karuan setelah bersalaman dengan tangannya yang halus dan sangat harum,kami berterima kasih juga pada ci mely dan kami ngobrol sambil bercanda ria dengan ci mely. Ci mely sangat ramah dan tidak sombong,Saya terus memandangi  ci mely dia sungguh cantik dan pikiran saya pun mulai mengkhayal ( andai ci mely jadi pacar saya ).

Kami di persilahkan untuk makan dan minum, Ci mely permisi untuk menyambut tamu yang lain. Sambil mencicipi makanan dan minuman saya terus memperhatikan ci mely, senyuman dan tatapan matanya membuat jantung saya deg2an dan membuat saya ga bisa berhenti memperhatikannya. Ternyata ci mely pun sadar kalo saya terus memandangi nya, ci mely menghampiri saya dan tersenyum sambil bertanya gimana rasa makanan nya,saya menjawab terbata2 eeee…nnaakk ci ” karena malu ketawan memperhatikan ci mely.

“siapa nama kamu tadi ? tanya ci mely ”

“Filbert ci ! ” jawab ku..

“saya perhatikan dari tadi kamu terus memandangi aku bert ? tanya ci mely.

“iya ci maaf, abis cici cantik banget sih ! kaya artis china” jawab ku sambil menggoda nya.

Tidak ku sangka ternyata ci mely tidak marah,dia malah tersenyum dan sambil mengusap kepala ku. wajah ku pun menjadi merah dibuat nya, Ci mely mengajak ku ke teman2 nya dan memperkenalkan aku ke teman2 nya… Dia kasih tau teman2nya kalo aku yang memainkan barongsai tadi,teman2 nya pun memuji permainan ku dan team ku,,, Aku ambil kesempatan untuk mempromosikan penampilan team ku jika ada acara2 mereka sambil memberikan kartu nama teamku. “oke bert “jawab salah satu teman ci mely.Waktu sudah mulai larut dan kami pun siap2 untuk pulang.

Sesampainya di rumah,saya tidak bisa tidur karena kebayang2 senyum ci mely yang cantik dan badannya yg seksi saya pun mulai berpikiran kotor. Saya tidak bisa tahan hasrat saya setelah membayangi ci mely, saya langsung pergi ke kamar mandi untuk memuaskan hasrat saya, setelah sudah kluar semua sperma saya baru bisa tidur.

Keesokan hari nya saya pergi mengendarai sepeda motor untuk pergi latihan barongsai, di tengah jalan saya melihat wanita cantik sedang berjalan sendirian. Tidak di sangka itu ternyata ci mely , saya langsung menghampiri ci mely dan menyapanya.

“Eh Ci mely. Mau kemana Ci ?” sapaku.

Ci mely agak kaget mendengar suaraku. Tapi ci mely kemudian tersenyum manis dan membalas sapaanku.

“Ehm.. Kamu bert. Cici mau ke kantor. Kamu mau kemana?” Ci mely balik bertanya.

“Mau pergi latihan ci..  Kalau gitu gimana kalau ci mely saya anter dulu ke kantor?

Kebetulan saya bawa helm satu lagi,” kataku sambil menawarkan jasa dan berharap ci Mely

tidak menolak ajakanku.

“Nggak usah deh, nanti kamu terlambat sampai tempat latihan lho”

Suara ci mely yang empuk dan lembut sesaat membuat penisku semakin menegang.

“Nggak apa-apa kok ci. Lagian tempat latihan saya kan sebenarnya dekat,”

kataku sambil mataku selalu mencuri pandang ke seluruh tubuhnya yang pagi itu mengenakkan bletzer dan celana panjang. Meski tertutup oleh pakaian yang rapi, tapi aku tetap bisa melihat kemontokan payudaranya yang lekukannya tampak jelas.

“Benar nih bert mau nganterin cici ke kantor?

Kalau gitu bolehlah cici bonceng kamu,” kata ci Mely sambil melangkahkan kakinya diboncengan.

Aku sempat agak terkejut karena cara membonceng cici yang seperti itu. Tapi bagaimanapun aku tetap diuntungkan karena punggungku bisa sesekali merasakan empuknya payudara cici yang memang sangat aku kagumi.

Apalagi ketika melewati gundukan yang ada di jalan, rasanya buah dada cici semakin tambah menempel di punggungku. Pagi itu ci Mely aku anter sampai ke kantornya. Dan aku segera menuju ke tempa latihan dengan perasaan senang.

Waktu itu hari sabtu. Kebetulan aku tidak ada latihan. Tiba-tiba telepon di sebelah tempat tidurku berdering. Segera saja aku angkat. Dari seberang terdengar suara lembut seorang wanita.

“Bisa bicara dengan Filbert?”

“Iya saya sendiri?” jawabku masih dengan tanda tanya karena merasa asing dengan suara ditelepon.

“Selamat pagi Filbert. Ini Ci mely…!,” aku benar-benar kaget bercampur aduk.

“Se.. Selamat.. Pa.. Gi Ci. Wah tumben nelpon saya. Ada yang bisa saya bantu ci ?” kataku agak gugup.

“Pagi ini kamu ada acara nggak Bert?

Kalau nggak ada acara datang ke rumah Cici ya. Bisa kan?” Pinta Ci Mely dari ujung telepon.

“Eh.. Dengan senang hati Ci. Nanti sehabis mandi saya langsung ke tempat Cici,” jawabku.

Kemudian sambil secara reflek tangan kiriku memegang Penisku yang mulai membesar karena membayangkan Ci Mely.

“Baiklah kalau begitu. Aku tunggu ya. Met pagi Bert.. Sampai nanti!” suara lembut Ci Mely yang bagiku sangat menggairahkan itu akhirnya hilang diujung tepelon sana.

Pagi itu aku benar-benar senang mendengar permintaan Ci Mely untuk datang ke rumahnya. Dan pikiranku nglantur kemana-mana. Sementara tanganku masih saja mengelus-elus penisku yang makin lama, makin membesar sambil membayangkan jika yang memegang Penisku itu adalah Ci Mely. Karena hasratku sudah menggebu, maka segera saja aku lampiaskan birahiku itu dengan onani.

Aku bayangkan aku sedang bersetubuh dengan Ci Mely yang sudah telanjang bulat sehingga payudaranya yang montok menunggu untuk dikenyot dan diremas. Mulut dan tanganku segera menyapu seluruh tubuh Ci Mely.

“Ci.. Tubuhmu indah sekali. Payudaramu montok sekali Ci. Aaah.. Ehs.. Ah,”
mulutku mulai merancau membayangkan nikmatnya ML dengan Ci Mely. aku sudah berfikir ingin memakai obat kuat untuk melawan Ci Mely

Jarum jam sudah menunjuk ke angka 8 lebih 30 menit. Aku sudah selesai mandi dan berdandan.

“Nah, sekarang saatnya berangkat ke tempat ci Mely. Aku sudah nggak tahan pingin lihat kemolekan
tubuhmu dari dekat sayang,” gumamku dalam hati.

Kulangkahkan kakiku menuju rumah Ci Mely yang hanya berjarak 100 meter aja dari rumahku. Sampai di rumah janda montok itu, segera saja aku ketuk pintunya.

“Ya, sebentar,” sahut suara seorang wanita dari dalam yang tak lain adalah Ci Mely.

Setelah pintu dibuka, mataku benar-benar dimanja oleh tampilan sosok ci Mely yang aduhai dan berdiri persis di hadapanku. Pagi itu Ci Mely mengenakan celana street hitam dipadu dengan atasan kaos ketat berwarna merah dengan belahan lehernya yang agak ke bawah. Sehingga nampak jelas belahan yang membatasi kedua payudaranya yang memang montok luar biasa. CI Mely kemudian mengajakku masuk ke dalam rumahnya dan menutup serta mengunci pintu kamar tamu. Aku sempat dibuat heran dengan apa yang dilakukan Ci Mely itu.

“Ada apa sih ci, kok pintunya harus ditutup dan dikunci segala?” tanyaku penasaran.

Senyuman indah dari bibir sensual Ci Mely mengembang sesaat mendengar pertanyaanku.

“Oh, biar aman aja. Kan aku mau ajak kamu ke kamar tengah biar lebih rilek ngobrolnya sambil nonton TV,” jawab ci Mely seraya menggandeng tanganku mengajak ke ruangan tengah.

Sebenarnya sudah sejak di depan pintu tadi penisku tegang karena terangsang oleh penampilan ci Mely. Malahan kali ini tangan halusnya menggenggam tanganku, sehingga kontolku nggak bisa diajak kompromi karena semakin besar aja. Di ruang tengah terhampar karpet biru dan ada dua bantal besar diatasnya. Sementara diatas meja sudah disediakan minuman es sirup berwarna merah. Kami kemudian duduk berdampingan.

“Ayo Bert diminum dulu sirupnya,” kata ci Mely padaku.

Aku kemudian mengambil gelas dan meminumnya.

“Bert. Kamu tahu nggak kenapa aku minta kamu datang ke sini?”
tanya ci Mely sambil tangan kanan beliau memegang pahaku hingga membuatku terkejut dan agak gugup.

“Ehm.. Eng.. Nggak ci,” jawabku.

“Cici sebenarnya butuh teman ngobrol….

Maklumlah Papa mama ku sudah jarang sekali pulang karena kerja mereka di luar kota dan harus sering menetap disana. Jadinya ya.. Kamu tahu sendiri kan, cici kesepian. Kira-kira kamu mau nggak jadi teman ngobrol cici?

Nggak harus setiap hari kok..!,” kata ci Mely seperti mengiba.

Dalam hati aku senang karena kesempatan untuk bertemu dan berdekatan dengan ci Mely akan terbuka luas.
Angan-angan untuk menikmati pemandangan indah dari tubuh ci mely itu pun tentu akan menjadi kenyataan.

“Kalau sekiranya saya dibutuhkan, ya boleh-boleh aja ci. Justru saya senang bisa ngobrol sama cici. Biar saja juga ada teman. Bahkan setiap hari juga nggak apa kok”

Cici tersenyum mendengar jawabanku.

Akhirnya kami berdua mulai ngobrol tentang apa saja sambil menikmati acara di TV. Enjoi sekali. Apalagi bau wangi yang menguar dari tubuh Ci Mely membuat angan-anganku semakin melayang jauh.

“Filbert, udara hari ini panas ya? Cici kepanasan nih.

Kamu kepanasan nggak?” tanya ci Mely yang kali ini sedikit manja.

“Ehm.. Iya Ci. Panas banget.

Padahal kipas anginnya sudah dihidupin,” jawabku sambil sesekali mataku melirik buah dada ci Mely yang agak menyembul, seakan ingin meloncat dari kaos yang menutupinya.

Mata Ci Mely terus menatapku hingga membuatku sedikit grogi, meski sebenarnya birahiku sedang menanjak. Tanpa kuduga, tangan ci Mely memegang kancing bajuku.

“Kalau panas dilepas aja ya Bert, biar cepet adem,” kata ci Mely sembari membuka satu-persatu kancing bajuku, dan melepaskannya hingga aku telanjang dada..

Aku saat itu benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan ci Mely padaku. Dan aku pun hanya bisa diam terbengong-bengong. Aku tambah terheran-heran lagi dengan sikap ci Mely pagi itu yang memintaku untuk membantu melepaskan kaos ketatnya.

“Bert, tolongin cici dong. Lepasin kaos cici. Habis panas sih..,” pinta ci Mely dengan suara yang manja tapi terkesan menggairahkan.

Dengan sedikit gemetaran karena tak menyangka akan pengalaman nyataku ini, aku lepas kaos ketat berwarna merah itu dari tubuh ci Mely.

Dan apa yang berikutnya aku lihat sungguh membuat darahku berdesir dan penisku semakin tegang membesar serta jantung berdetak kencang. Payudara ci Mely yang besar tampak nyata di depan mataku, tanpa terbungkus kutang. Dua gunung indah milik gadis cantik itu tampak kencang dan padat sekali.

“Kenapa Filbert. Kok tiba-tiba diam?” tanya ci Mely padaku.

“E.. Em.. Nggak apa-apa kok ci,” jawabku spontan sambil menundukkan kepala.

“Ala.. enggak usah pura-pura. Aku tahu kok apa yang sedang kamu pikirkan selama ini.

Cici sering memperhatikan kamu.

Filbert sebenarnya pingin inicici kan?”

kata cici sambil meraih kedua tanganku dan meletakkan telapak tanganku di kedua buah dadanya yang montok.

“Ehm.. cici.. Sa.. Ya.. Ee..,” aku seperti tak mampu menyelesaikan kata-kataku karena gugup. Apalagi tubuh ci Mely semakin merapat ke tubuhku.

“Filbert.. Remas susuku ini sayang. Ehm.. Lakukan sesukamu.

Nggak usah takut-takut sayang. Aku sudah lama ingin menimati kehangatan dari seorang laki-laki,” rajuk Ci Mely sembari menuntun tanganku meremas payudara montoknya.

Sementara kegugupanku sudah mulai dapat dikuasai. Aku semakin memberanikan diri untuk menikmati kesempatan langka yang selama ini hanya ada dalam angan-anganku saja. Dengan nafsu yang membara, susu ci Mely aku remas-remas. Sementara bibirku dan bibirnya saling berpagutan mesra penuh gairah.

Entah kapan celanaku dan celana ci Mely lepas, yang pasti saat itu tubuh kami berdua sudah polos tanpa selembar kainpun menempel di tubuh. Permaianan kami semakin panas. Setelah puas memagut bibir ci Mely, mulutku seperti sudah nggak sabar untuk menikmati payudara montoknya

“Uuhh.. Aah..” Ci Mely mendesah-desah tatkala lidahku menjilat-jilat ujung puting susunya yang berbentuk dadu.

Aku permainkan puting susu yang munjung dan menggiurkan itu dengan bebasnya. Sekali-kali putingnya aku gigit hingga membuat Ci Mely menggelinjang merasakan kenikmatan. Sementara tangan kananku mulai menggerayangi ‘vagina’ yang sudah mulai basah.

Aku usap-usap bibir vagina ci Mely dengan lembut hingga desahan-desahan menggairahkan semakin keras dari bibirnya.

“Bert.. Nik.. Maat.. Sekali sa.. Yaang.. Uuuhh.. Puasin cici sayang.. Tubuhku adalah milikmu,” suara itu keluar dari bibir janda montok itu.

Aku menghiraukan ucapan ci Mely karena sedang asyik menikmati tubuh moleknya. Perlahan setelah puas bermain-main dengan payudaranya mulutku mulai kubawa ke bawah menuju vagina Ci Mely yang bersih terawat tanpa bulu. Dengan leluasa lidahku mulai menyapu vagina yang sudah basah oleh cairan dan ku sedot sampai kering.

Aku sudah tidak sabar lagi. Batang penisku yang sudah sedari tadi tegak berdiri ingin sekali merasakan jepitan vagina janda cantik nan montok itu. Akhirnya, perlahan kumasukkan batang penisku ke celah-celah vagina. Sementara tangan ci Mely membantu menuntun tongkatku masuk ke jalannya. Kutekan perlahan dan..

“Aaah..” suara itu keluar dari mulutCi Mely setelah penisku berhasil masuk ke dalam liang senggamanya. Kupompa penisku dengan gerakan naik turun.

Desahan dan erangan yang menggairahkanpun meluncur dari mulut ci Mely yang sudah semakin panas birahinya.

“Aach.. Ach.. Aah.. Terus sayang.. Lebih dalam.. Lagi.. Aah.. Nik.. Mat..,” ci Mely mulai menikmati permainan itu.

Aku terus mengayuh penisku sambil mulutku melumat habis kedua buah dadanya yang montok. Mungkin sudah 20 menitan kami bergumul. Aku merasa sudah hampir tidak tahan lagi. Batang kemaluanku sudah nyaris menyemprotkan cairan sperma.

“Ci… Punyaku sudah mau keluar..”

“Tahan Bert.. Bentar sayang.. Aku jug.. A.. Mau sampai.. Aaach..” akhirnya Ci Mely tidak tahan lagi.

Kamipun mengeluarkan cairan kenikmatan secara hampir bersamaan. Banyak sekali air mani yang aku semprotkan ke dalam liang senggama ci Mely, hingga kemudian kami kecapekan dan berbaring di atas karpet biru.

“Terima kasih ya Bert. Cici puas dengan permainan ini. Kamu benar-benar jantan. Kamu nggak nyeselkan tidur dengan cici?” tanya beliau padaku.

Aku tersenyum sambil mencium kening janda itu dengan penuh sayang.

“Aku sangat senang ci. Tidak kusangka cici memberikan kenikmatan ini padaku. Karena aku sudah berangan-angan bisa menikmati tubuh cici yang montok ini”

Ci Mely tersenyum senang mendengar jawabanku.

“Filbert sayang. Mulai saat ini kamu boleh tidur dengan cici kapan saja, karena tubuh cici sekarang adalah milikmu. Tapi kamu juga janji lho. Kalau cici kepingin.. kamu temani cici ya.,” kata ci Mely kemudian.

Aku tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Dan kami pun mulai saling merangsang dan bercinta untuk yang kedua kalinya. Hari itu adalah hari yang tidak pernah bisa aku lupakan. Karena angan-anganku untuk bisa bercinta dengan ci Mely dapat terwujud menjadi kenyataan. Sampai saat ini sampai kutuliskan cerita ini aku dan ci Mely masih selalu melakukan aktivitas sex dengan berbagai variasi. Dan kami sangat bahagia.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com