Disabilitas Fisik Tak Halangi Kakak Beradik Ini Berprestasi

Share this:

Terlahir dengan kekurangan fisik tak menghalangi Ava Whipple (9) dan Jessa Whipple (4) dari South Carolina untuk berprestasi. Kedua kakak beradik ini telah mengikuti sekitar 40 ajang kecantikan dan memenangkan beberapa di antaranya.

Bahkan pada ajang yang terakhir mereka ikuti, mereka memborong berbagai macam gelar dan mahkota, seperti Division Best Hair dan Outfit of Choice, Elite Surpeme serta Miss Originality.

Ava terlahir dengan achondroplasia, yaitu gangguan pertumbuhan tulang yang ditandai dengan tubuh kerdil (dwarfisme) dan tidak proporsional.

Sementara Jessa mengidap bentuk kompleks dari spina bifida. Spina bifida adalah cacat lahir yang terjadi ketika tulang belakang dan sumsum tulang belakang tidak terbentuk dengan benar, dikutip dari Mayo Clinic.

Jacqueline dan Jason adalah orang tua asuh kakak beradik tersebut. Mereka tak dapat mempunyai anak karena ‘beberapa alasan’. Sejak sepuluh tahun lalu, mereka telah mengadopsi empat anak, yaitu Brady (10), Corbin (4), dan Ava serta Jessa.

Ava hanyalah satu-satunya anak yang mereka adopsi dari luar negeri, yaitu Bulgaria. Bahkan saat proses membawa pulang Ava dari Bulgaria Jacqueline sudah merasa ada ikatan yang dalam dengannya.

Karena kondisi Ava dan Jessa tersebut, Jacqueline dan Jason berjuang untuk menemukan tempat di mana anak-anak mereka dapat terbantu untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka.

Hingga mereka menemukan kompetisi ajang kecantikan tersebut. Namun Jason awalnya menolak keras untuk mengajak Ava dan Jessa ikut ajang kecantikan.

“Aku sudah lihat acara-acara itu, seperti Toddlers and Tiaras, dan mendengar semua cerita horor mimpi buruk tentangnya dan aku tak ingin hal tersebut terjadi pada kedua anakku,” tuturnya, seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (14/4/2018).

Setelah melalui banyak pertimbangan, akhirnya Jason menyetujui untuk mengajak anak-anaknya berkompetisi hanya pada satu ajang saja.

Jessa sempat mengalami masalah saat mengikuti ajang pertamanya karena dia kesusahan untuk berbicara. Meski Jacqueline menyebut ia telah mengikuti terapi wicara setiap minggu.

“Tapi lama-kelamaan, di ajang itu, dia mulai bicara ke orang-orang, menyebut beberapa kata, benda. Seakan langsung keluar dari dia. Mungkin (ajang kecantikan) telah mengubah persepsinya terhadap dirinya sendiri, kupikir,” kata Jacqueline.

Sedangkan Ava bergumul dengan harga dirinya dengan sering berpikir apakah dirinya berharga. Tetapi direktur salah satu ajang kecantikan di mana mereka bergabung menyatakan ajang seperti ini membantunya menemukan nilai dan harga dirinya.

“Tentu saja hal (rendah diri) itu timbul pada 3,5 tahun dia berada di panti asuhan. Aku melihat mereka pertama kali saat tampil di salah satu ajangku dan aku berpikir bahwa Ava, tentu saja, sungguh memesona, dan Jessa sangat manis sekali,” ujar Tonya Taylor, si direktur, dengan kagum.

Ia mengusahakan Ava dan Jessa tetap berkompetisi tanpa membedakan atau mengkhususkan mereka berdua. Taylor ingin mereka bertemu dengan teman-teman sebayanya dan berkompetisi dengan terbaik dari yang terbaik.

“Secara keseluruhan aku pikir gadis-gadis ini luar biasa. Mereka berbeda namun mereka tak memperlihatkannya,” imbuh dia lagi.

Kini Ava tak lagi malu untuk tampil di panggung ajang kecantikan. Ia tak berpikir bahwa kekurangannya mempengaruhi penampilannya serta ajang kecantikan itu sendiri.

Bahkan tak hanya itu, mereka berdua menjadi inspirasi bagi anak-anak dengan disabilitas lainnya untuk berani tampil ke panggung dan lebih percaya diri.

“Sungguh luar biasa melihat mereka tampil dan hatiku membengkak saking bangganya,” pungkas Jason.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *