Kemenkes Imbau Masyarakat Kurangi Konsumsi Susu Kental Manis

078643200_1530708611-Susu-Kental-Manis_-Ternyata-Tak-Mengandung-Susu-By-ninikas-shutterstock_385193497
Share this:

Kementerian Kesehatan masih mengkaji kontroversi polemik susu kental manis. Hal ini dilakukan setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru mengeluarkan surat edaran bahwa susu kental manis bukan bagian dari produk susu.

“Nanti ada staf saya yang mengkaji,” kata Menteri Kesehatan Nila S. Moeloek di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 5 Juli 2018.

Dia mengatakan, hingga saat ini Kemenkes belum bisa menentukan langkah terkait polemik susu kental manis ini, termasuk juga pembuatan aturan susu kental manis.

“Aturannya saya enggak bisa jawab dulu ya, tentu saya melihat dari kajian,” ucapnya.

Nila menyatakan, Kemenkes sudah menegaskan bahwa susu kental manis bukanlah produk susu. Karena itu, dia menyarankan pada masyarakat untuk mulai mengurangi konsumsi produk tersebut.

“Ya mungkin kita mengurangi. Kalau toh dimakan juga, tapi ya kita harus mengatasi keseimbangannya. Ya, jangan bikin penyakit ya,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Dirjen Kesehatan Masyarakat Kirana Pritasari mengatakan, susu kental manis bukanlah produk yang bisa dikonsumsi setiap hari, terlebih jika digunakan untuk pengganti susu. Kata dia, susu kental manis hanya bisa digunakan untuk pelengkap kudapan.

Kemenkes, kata dia, akan lebih masif mensosialisasikan dan memberikan informasi mengenai aturan angka kecukupan gizi agar masyarakat dapat lebih memperhatikan komposisi makanan yang dikonsumsinya.

“Kalau dari sisi program sebenarnya sudah kita punya aturan angka kecukupan gizi. Komposisi makanan itu kira-kira kalau daging sekian gram berapa kandungan, itu sebetulnya sudah ada. Tapi kalau itu masih kurang luas, ya kita memang harus perbaiki. Kita harus informasikan, sosialisasikan,” ucap Kirana.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *