Menelusuri Jejak Islam di Tanah Maros

Share this:

Jejak-jejak Islam di Maros, Sulawesi Selatan bisa traveler telusuri di Masjid Nurul Falah. Masjid berusia 2 abad ini jadi saksi penyebaran Islam di sana.

Setelah hampir dua abad, sebuah masjid di Maros, Sulawesi Selatan, masih tetap kokoh berdiri dan menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di kabupaten yang kini berpenduduk 399 ribu jiwa. Dulunya, masjid itu merupakan lambang kejayaan Kerajaan Marusu yang menjadi cikal bakal nama kabupaten yang berbatasan langsung dengan Makassar ini.

Oleh seorang Raja Marusu, masjid yang dulunya hanya langgar itu diberi nama dengan Masjid Nurul Falah atau cahaya kemenangan. Lokasinya hanya beberapa meter saja dari Istana Kerajaan Marusu yang dikenal dengan nama Balla Lompoa di Kelurahan Baju Bodoa, Kecamatan Maros Baru, Maros, Sulawesi Selatan.

Karena sudah tidak mampu lagi mengampung jemaah yang setiap tahunnya bertambah, masjid ini pun dipugar hingga tiga kali seperti bentuknya yang sekarang. Namun, meski telah mengalami perubahan, ornamen dan arsitekturnya masih tetap mengacu pada masjid kebanyakan di Makassar yang kubahnya berbentuk persegi empat lancip.

“Sejak didirikan tahun 1821, masjid ini sudah tiga kali mengalami perubahan. Namun kami tetap mempertahankan arsitektur aslinya seperti kubah dan atap depan yang bersusun tiga seperti istana raja. Satu-satunya bangunan asli di Masjid ini adalah gerbang di pagar,” ujar Raja Marusu ke-24, Abdul Waris Karaeng Sioja kepada detikTravel, Sabtu (2/6/2018).

“Saat masih menjadi Langgar, masjid ini berlokasi di pinggiran Sungai Maros. Saat Istana Kerajaan Marusu dipindahkan, langgar ini juga dipindahkan dan menjadi sebuah masjid pertama di Kerajaan Marusu kala itu,” lanjutnya.

Bagi Kerajaan Marusu, masjid tidak hanya menjadi tempat untuk beribadah sejak dahulu, namun juga menjadi tempat bermusyawarah untuk membicarakan hal-hal penting menyangkut hajat rakyat.

Tradisi ini pun masih tetap berlaku hingga saat ini. Selain itu, masjid ini juga menjadi tempat pusat kegiatan Islam, mulai dari kajian hingga pembelajaran agama bagi remaja dan anak-anak.

“Satu hal yang masih terjaga hingga saat ini adalah Masjid ini menjadi tempat bermusyawarah. Dulu, raja-raja selalu bermusyawarah dengan rakyatnya di masjid ini terkait hal-hal penting. Nah sekarang pun begitu. Pemerintah setempat sering membuat musyawarah di sini juga,” sebutnya.

Seperti masjid-masjid tua lainnya, di belakang Masjid Nurul Falah ini terdapat kompleks pemakaman Raja Marusu dan keluarganya. Ada dua Raja Marusu yang dimakamkan di belakang Masjid, yakni Raja Marusu ke 17 dan 18. Makam ini pun masih sering diziarahi oleh keturunan keluarga raja dan masuk dalam situs cagar budaya.

“Selain makam itu, ada kompleks pemakaman raja-raja Marusu yang biasa kita sebut Kobbanga di pinggir Sungai Marusu, tempat dulunya Istana Marusu dan langgar dibangun pertama kali,” terangnya.

Keberadaan masjid ini, tidak terlepas dari keberadaan istana Kerajaan Marusu. Dari beberapa literatur kuno, Kerajaan Marusu berdiri sekitar abad 15 oleh seorang raja pertama bernama Karaeng Loe Ri Pakere yang dipercaya sebagai Tumanurung atau orang yang turun dari langit.

Kala itu, Islam baru mulai dibawa oleh para pedagang dari Melayu. Diperkirakan, Islam mulai masuk di wilayah kerajaan Marusu sekitar tahun 1596, saat Raja Marusu ke tiga yang sekaligus menjabat sebagai Tu Mailalalng atau menteri dalam negeri Kerajaan Gowa.

Meski begitu, dalam catatan Raja Bone ke-22 yang memerintah antara tahun 1752 hingga 1762, Kerajaan Bone sebelumnya sudah pernah memdirikan sebuah langgar di Marampesu yang saat ini berada di wilayah Kelurahan Boribellaya, Kecamatan Turikale, Maros.

Sayangnya, masjid itu sudah tidak ada lagi. Disebutkan pula, pada tahun 1756 raja Bone menggelar salat Idul Adha di langgar yang kemudian ia bangun menjadi masjid.

“Jadi kalau bicara sejarah masuknya Islam di Maros ini, sebelum di Kerajaan Marusu, Raja Bone sudah pernah membuat langgar di Marampesu yang pernah menjadi pusat pemerintahan Raja Bone. Saat era ekspansi kerajaan Gowa kepada kerajaan lain di Sulsel, Marampesu ini kemudian direbut,” sebut seorang penggiat Budaya Maros, Andi Muhammad Riza AB.

Menurutnya, sejarah Islam di Maros memang tidak terlepas dari masuknya Islam di Kerajaan Tallo yang kemudian secara kelembagaan membuat kerajaan Gowa berubah bentuk menjadi kesultanan pada abad ke-16 silam. Kesultanan Gowa yang merupakan kerajaan besar di Sulsel, lalu menyebar luaskan Islam ke semua kerajaan lain, termasuk Kerajaan Marusu dan Kerajaan Bone.

Masuknya Islam di Sulsel, tidak terlepas dari peran para ulama dari Minangkabau yakni Datuk Ri Bandang, Datuk Patimang dan Datuk Di Tiro. Ketiga orang ini pertama kalinya berhasil meng-Islamkan Raja Luwu, La Patiware Daeng Parabu yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Muhammad Mahyuddin pada awal tahun 1605. Di tahun yang sama, Raja Tallo, Imalingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka dan Raja Gowa, Sultan Alauddin juga memeluk Islam.

“Ada tiga orang tokoh Islam yang berjasa membawa kerajaan besar di Sulsel memeluk Islam. Nah di Maros sendiri memang mengikut setelah Raja Gowa memproklamirkan kerajaannya sebagai kerajaan Islam di Sulsel. Meski pada akhirnya kerajaan Gowa Tallo dan sekutunya takluk dengan VOC tahun 1669, Islam tetap menyebar hingga ke pelosok Sulsel,” pungkasnya.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *