Mengenal Kampung Naga di Jawa Barat

Share this:

Tahukah traveler jika di Jawa Barat ada Kampung Naga. Mumpung weekend, yuk ke sana sambil berwisata sejarah.

Ini adalah salah satu objek wisata budaya yang sayang untuk dilewatkan. Adalah Kampung Naga, letaknya ada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, jawa Barat.

Lokasi Kampung Naga berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Tasikmalaya, sedangkan dari pusat Kota Garut sekitar 36 kilometer. Untuk menuju ke Kampung Naga, pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda 2 maupun 4 dengan jarak tempuh kurang lebih 1 jam.

Usai tiba di Desa Neglasari, pengunjung masih harus berjalan menuruni sekitar 439 anak tangga karena lokasinya yang berada jauh di bawah tebing. Cukup menguras tenaga untuk bisa sampai ke Kampung naga.

Namun, pengunjung tak perlu khawatir. Rasa lelah pun terbayar lunas oleh keindahan hutan yang asri, hamparan sawah terasering dan gemericik air Sungai Ciwulan yang mengalir jernih di sisi jalan setapak menuju Kampung Naga.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern masyarakat Kota Tasikmalaya, ternyata penduduk di kampung naga yang berjumlah 313 orang ini masih memegang teguh adat-istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya. Bagaimana tidak, puluhan tahun mereka hidup berdampingan tanpa adanya aliran listrik yang masuk ke kampung.

Pun demikian dengan gas LPG untuk memasak, warga tetap bertahan dengan menggunakan tungku. Namun uniknya, tak ada aturan dalam berbusana, larangan pendidikan maupun penggunaan elektronik dalam kehidupan masyarakat di Kampung ini.

“Anak-anak di sini tetap sekolah seperti anak-anak lain pada umumnya. Beberapa rumah juga ada televisi tapi menggunakan Aki,” ujar Sahyan, salah seorang sesepuh di Kampung Naga.

Sehari-hari, lanjut Sahyan, masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani ini senantiasa hidup rukun karena berpegang teguh terhadap warisan budaya leluhurnya. Buktinya, untuk hasil berkebun saja jika masih ada sisa mereka silih berganti memberi ke tetangga.

“Saat panen padi, buah-buahan sama ketela itu harus dikonsumsi oleh 1 keluarga dulu. Kalau ada sisa mah baru dibagi ke tetangga, kalau masih ada sisa lagi baru boleh dijual ke pasar,” tambah sahyan.

Rumah penduduk di Kampung Naga yang berjumlah 112 bangunan masih terbuat dari kayu atau bambu. Sedangkan atapnya terbuat dari daun nipah atau ijuk. Selain itu, di dalam rumah juga tak boleh ada perabotan seperti kursi.

Sementara untuk kamar mandi dan kandang ternak pun diberi aturan khusus, harus berada di luar area perumahan. Selain bisa berselfie dengan latar belakang rumah-rumah warga, pengunjung juga bisa berburu produk unggulan kerajinan tangan masyarakat setempat sebagai oleh-oleh khas Kampung Naga.

Menurut salah seorang pengunjung, Tofan Rudiyanto, ia rela datang jauh-jauh dari Kota Surabaya bersama keluarganya, hanya untuk melihat budaya kehidupan masyarakat keturunan Sunda Wiwitan ini.

“Kampung Naga ini memang menarik untuk dikunjungi. Setidaknya pengunjung bisa belajar budaya setempat, karena kearifan lokalnya yang masih terjaga dengan baik,” kata Tofan.

Senada dengan Tofan, Srijono seorang warga Desa Mangkubumi, Tasikmalaya, yang kebetulan juga berkunjung ke kampung tersebut mengaku tak pernah bosan untuk bolak-balik berkunjung ke Kampung Naga. Menurutnya, tempat ini bisa menjadi wisata budaya dan edukasi untuk semua kalangan.

Oleh karena itu, setiap keluarganya dari berbagai daerah yang berlibur ke rumahnya kerap di ajak untuk singgah ke Kampung Naga.

“Tidak pernah ada bosannya untuk berkunjung ke tempat ini. Ya selain bisa foto bareng sama keluarga, berburu oleh-oleh produk unggulan kerajinan tangan masyarakat setempat, kami juga bisa belajar tentang sejarah kampung ini,” ungkap Srijono.

Naah.. bagi traveler yang penasaran, segera persiapkan waktu liburanmu ke Kampung Naga. Tapi ada peraturan setempat yang harus di taati oleh pengunjung.

Peraturan itu antara lain larangan membunyikan musik dari luar dan tempat keramat yang tak boleh dimasuki atau dipotret. Seperti rumah adat yang hanya boleh dimasuki oleh tetua, atau hutan keramat yang dipercaya sebagai makam leluhur dari Kampung Naga.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *