Mertua Pemilik Bom Bangil Pasuruan Syok

025424900_1530775240-WhatsApp_Image_2018-07-05_at_14.03.28
Share this:

Pasuruan – Pascaledakan bom Bangil Pasuruan, Jawa Timur, Perumahan Arbain ini akrab disebut Kampung Janda itu sepi. DR istri A (50), pemilik bom tersebut ternyata pernah tinggal di kampung yang secara administratif masuk RT 07 RW 01 Kelurahan Gempeng, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan tersebut.

Sehari pascaperistiwa ledakan, lurah dan pengurus RT Kampung Janda sibuk menggelar pertemuan dengan aparat setempat untuk koordinasi kamtibmas.

Seharian ini sibuk pertemuan, kami terkejut ada salah seorang mantan warga kampung terseret masalah karena ulah suaminya,” kata Lurah Gempeng, Mokh Ikhwan ditemui suarasurabaya.net di kantornya, Jumat (6/7/2018).

Perumahan itu disebut Kampung Janda karena memang dikhususkan bagi para janda yang tidak mampu. Bangunan ini milik perorangan yang diwaqafkan untuk membantu kaum janda dan anak yatim.

Ikhwan membeberkan, DR memang besar di lingkungan Kampung Janda. Karena ibunya merupakan salah seorang janda yang tinggal di kampung itu. Setelah DR dewasa, kemudian menikah dengan seorang pria asal Surabaya dan keluar dari kampung itu.

“Karena secara aturan, anak yang sudah dewasa dan memiliki suami tidak boleh lagi tinggal di Kampung Janda,” kata Ikhwan.

Menurut dia, setelah memiliki seorang anak dari pernikahannya dengan pria asal Surabaya, DR berpisah dengan suaminya. Lalu, DR kembali lagi ke Kampung Janda sekitar tahun 2014. Karena statusnya janda, maka pengurus perumahan memblehkan DR tinggal bersama ibunya lagi.

Pernyataan ini dikuatkan oleh Suprihatin Sekretaris RT 07 Gempeng. Menurutnya, DR sempat kembali tinggal di Kampung Janda sebelum akhirnya pergi lagi karena menikah siri dengan Abdullah alias Anwardi (50).

“Seingat saya tahun 2015 kemudian Mbak DR menikah lagi dan dibawa suaminya. Kami semua tidak tahu proses pernikahannya, pokoknya sudah menikah lagi dan keluar dari kampung janda,” ujar Suprihatin.

Menurut Suprihatin, DR sempat juga diajak suaminya (Abdullah) tinggal di Jakarta. Lalu, pada saat hamil tua sempat kembali ke orang tuanya di Kampung Janda sampai melahirkan anak dari buah cintanya dengan Abdullah. Setelah anaknya agak besar, DR mengikuti suaminya dan terakhir diajak mengontrak di Jalan Pepaya Kelurahan Pogar.

“Saya pernah lihat suaminya yang terakhir ini, tapi orangnya pendiam sepertinya. Suaminya itu sering terlihat joging saat mengantarkan belanjaan ke rumah mertuanya. Setelah itu, mereka tinggal bersama mengontrak di Pogar,” kata Suprihatin.

Dia juga tidak mengetahui asal-usul A, pemilik bom Bangil Pasuruan dan pekerjaannya. Dari pengamatan Suprihatin, DR lah yang selama ini tampak sibuk mencari nafkah dengan berjualan baju melalui online. “Mbak DR rajin berjualan baju, kalau suaminya rajin joging,” katanya.

Baik Ikhwan maupun Suprihatin tidak menyangka, DR dan anaknya harus menanggung masalah karena ulah suaminya saat ini.

Peristiwa ledakan di kontrakan Pogar pada Kamis (5/7/2018) cukup mengejutkan bagi orang yang pernah dekat dengan DR.

Ibunya DR, kata Suprihatin, juga syok mendengar kabar ledakan bom Bangil Pasuruan itu. Dia sempat menangis ke pengurus RT Kampung Janda.

“Kami semua tidak menyangka ada kejadian ini. Kami juga sedikit repot terkena imbasnya,” katanya.

Lurah Gempeng Ikhwan menambahkan, kejadian ini sebagai bahan evaluasi. Sebagai aparat pemerintah, dia banyak melakukan pertemuan dan sosialisasi kepada warga untuk peduli melaporkan kehadiran orang asing.

Khusus di Kampung Janda, Lurah Gempeng mengimbau agar semua pencatatan administrasi warga dipenuhi. Dia mengimbau apabila ada yang menikah siri, sebaiknya segera dilaporkan untuk didata.

“Itulah kenapa Dina masih tercatat sebagai warga Gempeng karena KK masih ikut ibunya. Sementara suami dan anaknya belum bisa masuk KK, karena nikahnya tidak dicatatkan alis nikah siri. Sekarang kami bisa saja menerbitkan KK tapi tanpa bapak, KK dengan kepala keluarga Ibu DR,” kata Ikhwan.

Suprihatin juga demikian, akan menerapkan aturan baru di Kampung Janda agar lebih tertib dan mudah pengawasannya. Pengurus RT Kampung Janda tak segan meminta saran kepada aparat Kelurahan terkait pendataan dan peraturan tinggal.

“Ini jadi evaluasi kami bersama, sebenarnya kampung kami adem ayem saja selama ini,” ujar Ikhwan.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *