Pertemuan Kim Jong-un dan Donald Trump, Siapa Untung Siapa Buntung?

064447800_1528712551-Infografis_Donald_Trump_dan_Kim_Jong-un
Share this:

Kim Jong-un masih merasa terancam, meski Pemerintah Singapura telah menjamin keamanan dan keselamatan jiwanya. Pada Minggu 10 Juni 2018, misalnya, tiga pesawat diterbangkan dari Pyongyang menuju Negeri Singa.

Salah satunya adalah modifikasi Ilyushin-62 buatan Uni Soviet yang selama ini dikenal sebagai pesawat pribadi Kim Jong-un, yang dijuluki ‘Chammae-1’ atau ‘Air Force Un’.

Namun, ternyata, pemimpin Korea Utara itu tak ada di dalamnya. Ia tiba di Singapura menggunakan Air China Boeing 747. Pesawat tersebut awalnya menggunakan nomor penerbangan CA122, dengan rute Pyongyang ke Beijing, sebelum mengubahnya menjadi CA061 di udara dan terbang terus ke arah selatan.

Belakangan, seperti dilaporkan media Hong Kong, Apple Daily, kapal terbang yang mengangkut Kim Jong-un diduga adalah pesawat pribadi yang sering digunakan Perdana Menteri Tiongkok, Li Keqiang.

Namun, tak seperti Air Force One tunggangan Presiden Amerika Serikat, pesawat B-2447 yang berusia 23 tahun itu tak dilengkapi sistem pertahanan terhadap artileri.

Seperti dikutip dari Asia One, Senin (11/6/2018), pemimpin dari Dinasti Kim itu mungkin menegosiasikan peminjaman tersebut dengan Presiden China Xi Jinping selama kunjungannya ke Tiongkok, Mei 2018 lalu.

Apapun motifnya, penggunaan pesawat tersebut seakan menunjukkan, ada andil China dalam perjalanan Kim Jong-un ke Singapura.

Selain trik pengalihan perhatian, Kim Jong-un juga membawa serta 12 pengawal pribadi yang punya tugas khusus: berlari di sekeliling mobil sang ‘Supreme Leader’ yang sebenarnya sudah dilengkapi perlindungan anti-peluru.

Tak lupa, ia juga membawa toilet pribadi, tujuannya, agar pihak lawan tak bisa menguak rahasia di balik kotorannya itu.

Kim Jong-un dijadwalkan melakukan pertemuan empat mata dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa 12 Juni 2018 pukul 09.00 waktu setempat. Dunia sedang menanti apakah momentum akbar itu akan efektif membawa perdamaian di Semenanjung Korea.

“Saya akan tahu dalam hitungan menit apakah pertemuan tersebut akan berhasil,” kata Donald Trump di sela-sela pertemuan G7 di Quebec, Kanada. Ia mengaku bisa ‘meraba’ ketulusan Kim Jong-un.

Jika sukses, pertemuan perdana pemimpin Korut dan presiden AS itu juga akan mengakhiri Perang Korea 1953 dengan sebuah perjanjian damai, bukan gencatan senjata yang membuat pihak Seoul dan Pyongyang secara de facto masih bertempur hingga kini.

Korut menyatakan bersedia untuk menyingkirkan persenjataan nuklirnya, asalkan Amerika Serikat memberikan jaminan keamanan dan manfaat lainnya.

Di sisi lain, Donald Trump menawarkan imbalan pencabutan sanksi ekonomi AS pada Korea Utara jika pihak Kim Jong-unmenyetujui penghapusan program senjata nuklir secara lengkap dan dapat diverifikasi.

Berselisih dengan Sekutu Dekat

Sementara itu, Donald Trump tiba di Singapura usai menghadiri KTT G7 di Quebec, Kanada. Ia pergi lebih cepat, setelah menyerang sejumlah pemimpin negara sekutu, terutama PM Kanada Justin Trudeau, soal kebijakan perdagangan.

Ada dua kubu punya pendapat berbeda soal perseteruan Donald Trump di KTT G7. Di satu sisi, itu menunjukkan ketidakmampuannya untuk berurusan dengan para sekutunya — apalagi dengan Kim Jong-un yang sesumbar punya senjata nuklir yang bisa mencapai daratan AS.

“Jika Trump tak bisa menegosiasikan kesepakatan soal susu dengan salah satu sekutu terdekat AS, bagaimana ia bisa mencapat kesepakatan tentang perlucutan senjata nuklir dengan salah satu musuh terbesar kita?,” kata Michael McFaul, Dubes AS untuk Rusia pada masa pemerintahan Barack Obama, seperti dikutip dari USA Today.

Namun, para pendukung Trump melihatnya dari sisi berbeda. Perseteruan miliarder nyentrik itu dengan pimpinan G7 lainnya dianggap menunjukkan bahwa ia akan berjuang untuk apa yang diinginkannya.

“Presiden tak akan membiarkan PM Kanada menekannya…Kim (Kim Jong-un) tak boleh melihat kelemahan Amerika,” kata penasihat ekonomi senior Gedung Putih, Larry Kudlow.

Sejumlah analis menyebut, masalah yang dihadapi Trump dalam KTT G7 akan memberikan tekanan padanya untuk memastikan kesuksesan pertemuan dengan Kim Jong-un.

“Apa yang terjadi dalam pertemuan G7 meningkatkan kemungkinan Trump membuat konsesi sehingga KTT dengan Kim Jong-un terkesan sukses,” kata Daniel W. Drezner, dosen politik internasional di Fletcher School of Law and Diplomacy di Tufts University. “Jika tidak, skor Donald Trump bakal 0-2 selama lawatannya kali ini.”

Meskipun Donald Trump dan Kim Jong-un mencapai kesepakatan perlucutan senjata, prosesnya tak akan semudah membalik telapak tangan.

“Upaya itu akan makan waktu bertahun-tahun,” kata Joseph Cirincione, presiden Plowshares Fund, sebuah yayasan keamanan global.

Apa saja yang akan dibicarakan dalam pertemuan Kim Jong-un dan Donald Trump masih misterius. Pun dengan apa yang akan terjadi sesudahnya.

Sejumlah media menyebut, Kim Jong-un akan meninggalkan Singapura pukul 14.00 waktu setempat atau lima jam setelah memulai pertemuannya dengan sang taipan properti. Namun, sejumlah pejabat AS mengatakan, keduanya mungkin akan menggelar pertemuan lanjutan pada Selasa 12 Juni 2018.

Apapun bisa terjadi dalam pertemuan tersebut. Yang terbaik maupun terburuk. Apalagi, saling tak percaya sempat mewarnai hubungan Pyongyang dan Washington DC.

Pernyataan Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, John Bolton yang membandingkan tujuan pembicaraan dua pemimpin dengan perlucutan senjata ‘model Libya’ membangkitkan amarah pihak Kim Jong-un dan nyaris membatalkan pertemuan di Singapura.

Pemimpin Libya, Moammar Khadafi dilengserkan paksa dan tewas di tangan rakyatnya delapan tahun setelah ia setuju melucuti senjata nuklirnya.

Seandainya pertemuan tersebut berhasil, Kim Jong-un akan menyetujui pelucutan senjata nuklir Korea Utara secara keseluruhan dan bisa diverifikasi atau complete, verifiable, irreversible dismantlement (CVID).

Namun, “hal itu sederhana, namun mustahil,” kata Andrei Lankov, seorang pengajar di Kookmin University di Seoul sekaligus direktur di situs berita NK News, seperti dikutip dari NBC News.

Dalam skenario yang tidak masuk akal ini, Lankov mengatakan, Kim Jong-un akan mengirimkan seluruh senjata nuklirnya, termasuk peralatan penting ke AS atau negara ketiga yang disepakati.

Masalahnya, Korut melihat persenjataan nulklirnya sebagai jaminan yang tak ternilai melawan Amerika Serikat yang dianggap berpotensi menyerang dan menggulingkan Dinasti Kim.

Meyakinkan Kim Jong-un untuk mempercayai pihak Barat dan menyerahkan semua persenjataan nuklirnya juga diperkirakan bakal sulit dilakukan. Nasib Saddam Hussein di Irak, Moammar Khadafi di Libya, menjadi pelajaran berharga untuknya.

Preseden lain yang tak mendukung adalah keputusan Trump untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran bulan lalu.

“Tujuan Trump untuk melakukan denuklirisasi total di Korut tak masuk akal,” kata Inderjeet Parmar, dosen politik internasional di politik internasional di City, University of London.

Bahkan Donald Trump sendiri mengakui hal itu.

“Ini adalah proses,” kata dia. “Kami tak akan masuk dan menandatangani sesuatu pada 12 Juni,” kata Presiden AS itu sebelumnya.

Meski atmosfer penuh optimisme ditunjukkan dua pemimpin, namun bukan tak mungkin pertemuan Kim Jong-un dan Donald Trump berakhir dengan kegagalan.

“Skenario terburuk adalah kedua pemimpin justru membuat langkah mundur dengan saling menghina pribadi satu sama lain,” kata Robert Kelly, dosen ilmu politik dan diplomasi di Pusan National University di Korea Selatan seperti dikutip dari NBC News.

Tahun lalu, misalnya, Trump menjuluki Kim sebagai ‘little rocket man’ dan menyinggung fisik pemimpin Korut itu yang ‘pendek dan gemuk’.

Sementara, Kim Jong-un balas menyebut presiden ke-47 AS itu ‘menderita gangguan mental’ dan ‘dotard’ — istilah lawas yang berarti tua dan pikun.

Sejumlah analis mengkhawatirkan sikap Trump yang tak bisa diprediksi. Ia juga dikenal sebagai sosok yang tak pernah tedeng aling-aling menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya.

Sementara, lawan bicaranya, Kim Jong-un dikenal sebagai pemimpin muda yang kejam, yang tak ragu mengeksekusi rakyat, bahkan keluarganya sendiri, demi menguatkan cengkeramannya pada kekuasaan.

Hal terbaik yang realistis adalah, pertemuan berjalan sesuai dengan jadwal, tak dihentikan lebih awal, dan keduanya memberikan pernyataan bersama,” kata Joshua H. Pollack, peneliti senior di Middlebury Institute of International Studies di Monterey.

Meskipun semua orang mengaharapkan CVID secara penuh, Korea Utara mungkin dapat menyetujui untuk menghentikan tes senjata secara resmi, dan kemudian menyerahkan sebagian dari senjata nuklirnya, serta materi dan peralatan terkait.

Dan, kedua pihak akan menyetujui pembicaraan lebih lanjut, membangun road map soal denuklirisasi — meski baik AS dan Korut belum sepakat soal definisi ‘denuklirisasi’.

Sebagai imbalannya, AS mungkin setuju untuk mengekang aspek tertentu dari latihan militer yang digelar rutin bersama Korea Selatan, dan akhirnya bahkan mencabut beberapa sanksi terhadap rezim Kim.

Itu mengapa, Lankov mengatakan, meski kesepakatan yang dihasilkan jauh dari sempurna, itu layak disambut baik.

Namun, Robert Kelly, pengajar Pusan National University di Korsel berpendapat, kesepakatan itu mungkin tak ada artinya.

“Pernyataan sikap yang lemah dengan sejumlah foto, yang akan mempermalukan AS, dengan mempertontonkan Donald Trump, dengan gembira bersama dengan pelanggar hak asasi manusia terburuk untuk sesuatu yang tak ada artinya,” kata dia.

Tak semua melihat kemunculan sosok Kim Jong-un yang ‘diplomatis’, bukan yang gemar mengumbar ancaman nuklir, sebagai hal yang menggembirakan.

Salah satunya, Song Byeok, seniman Korut yang membelot ke Korsel. Ia adalah bekas pelukis propaganda rezim.

Song dulu ditugasi untuk melukis poster anti-Amerika dan Jepang, wajah-wajah para pekerja yang bahagia, dan tentu saja, Dinasti Kim.

“Sebagai seniman propaganda, kami diperintahkan untuk menggambarkan Korea Utara dan para pemimpinnya sebagai yang terbaik di dunia,” kata Song, di apartemennya di Seoul, seperti dikutip dari BBC News.

“Di Korut, seni haruslah indah. Tak ada gelandangan, semua orang gemuk karena cukup makan,” tambah dia.

Namun, Song tahu benar, itu sama sekali tak sesuai kenyataan.

Ia yang melarikan diri dari Korea Selatan pada 2002 lolos dari gulag atau kamp kerja paksa di mana siksaan adalah rutinistas sehari-hari.

“Berada di penjara Korut sangat berat,” kata dia. “Mendengar burung bernyanyi dan melihat langit biru, dan itu membuat kami semakin ini mati. Jadi, bisa Anda bayangkan, betapa syoknya saya melihat Kim Jong-un ditampilkan secara positif,” kata dia.

Song mengaku tak habis pikir bagaimana sejumlah pemimpin negara menyambut seseorang yang dulunya dijauhi karena program senjata nuklirnya dan catatan hak asasi manusia yang mengerikan.

Banyak yang tewas di tangan rezimnya, namun orang kini menyebutnya manusiawi,” kata Song. “Mereka meromantisasi seorang diktator dan mengagung-agungkan rezimnya. Semua itu salah.”

Dalam wawancara dengan MSNBC, seorang pembelot, Yeonmi Park berpendapat sebada.

Adalah hal yang disayangkan betapa banyak negara yang ingin menormalisasi hubungan diplomatik dengan seorang ‘pembunuh’ — mengingat apa yang dilakukan rezim Kim pada rakyatnya.

“Mereka (rakyat Korut) bahkan tak sadar bahwa mereka diperbudak,” kata dia.

Meski senjata nuklir selalu menjadi kebijakan pemimpin Korut, yang dicanangkan Kim Il-sung pada tahun 1950-an, ada alasan kuat mengapa Kim Jong-un mau mengubah dirinya, dari ‘sosok menyeramkan’ menjadi lebih bisa didekati.

Ia diduga dalam kondisi terjepit di tengah sanksi internasional. “Terlepas dari hasilnya, pertemuan Singapura di adalah pencapaian yang tidak bisa didapat oleh ayah dan kakek Kim Jong-un — bisa bicara empat mata dengan seorang presiden AS,” kata Jung Pak, mantan petugas CIA yang kini jadi pimpinan SK-Korea Foundation, seperti dikutip dari The Nation.

“Mereka (pihak Korut) memperoleh legitimasi dan status dari pertemuan semacam itu,

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *