Pedagang Cirebon Serbu Garut Jajakan Anggur Impor Cina

023249200_1533773866-IMG_20180806_130113
Share this:

Puluhan pedagang anggur impor Cina yang tersebar di beberapa tempat, membanjiri Garut, Jawa Barat saat ini. Buah merah ranum asal negeri Panda itu, dijual secara eceran di kota Intan melalui para pedagang musiman asal kota udang, Cirebon.

“Saya baru sepekan jualan, awalnya dari Cilegon pindah ke sini (Garut),” ujar Yogi, 27 tahun, pedagang anggur impor musiman asal Kabupaten Cirebon, saat ditemui Liputan6.com beberapa waktu lalu.

Pedagang buah musiman asal Sindanglaut, Kabupaten Cirebon itu mengatakan, penjualan anggur merah asal Cina itu cukup menggiurkan, selain harganya yang terbilang murah, juga kualitas buah cukup enak dan kenyal. “Buahnya besar dan rasanya cukup manis,” ujarnya.

Kondisi itu sedikit unggul jika dibanding dengan anggur lokal asal Bali yang selalu membanjiri produk anggur nasional, saat musim panen tiba.

“Paling beda tentu rasanya yang masam, buahnya (anggur Bali) juga tidak terlalu besar,” kataya.

Yogi mengaku tertarik menjajakan buah impor asal negeri Tirai Bambu itu karena barangnya mudah didapat. “Katanya lagi panen raya di sananya, jadi pasokan melimpah,”kata dia.

Sementara pasokan anggur lokal yang berasal dari Bali belum memasuki musim panen. “Mungkin beberapa bulan lagi (anggur Bali) banyak,” ujar dia.

Barang itu sengaja diperoleh dari pasar Induk Caringin, Bandung atau langsung pasar induk Kramat Djati, Jakarta yang merupakan pasar induk terbesar di pulau Jawa itu. “Tinggal pesan barang langsung kita ambil ke sana,” kata dia.

Yogi menambahkan, selain pasokan melimpah, minat masyarakat Garut yang cukup tinggi ikut memudahkan penjualan anggur, sehingga memberikan keuntungan cukup tinggi. Saya sehari bisa habis enam kerat (satu kerat 7 kilo gram),” kata dia.

Saat ini Yogi bersama Darman, rekannya yang juga menjajakan roda anggur impor itu, menjual Rp 35 ribu per kilo gram, atau sekitar Rp 18 ribu per 500 gram. “Kadang masih ada juga yang masih menawar, tapi rata-rata ramainya harga itu,” kata dia.

 

Tradisi Nomaden Pedagang Musiman Asal Cerebon

Yogi mengatakan, tradisi jualan pedagang musiman asal Cirebon secara nomaden atau berpindah-pindah itu, sudah berlangsung lama. Mereka mendapatkan informasi dari rekannya yang sebelumnya telah melakukan survei tempat atau kabupaten yang akan dituju.

“Di Garut kita coba anggur dan ternyata bagus,” ujar dia sambil tersenyum.

Kemudian mereka akan mendiami satu daerah hingga beberapa bulan menggunakan jasa kontrakan yang mereka sewa secara urungan. Sementara soal barang biasanya membeli dengan modal urungan pula atau dipasok satu satu pemilik modal.

“Jadi kita hanya jual saja,” ujarnya.

Untuk memudahkan transaksi, biasanya para pedagang menjajakan barang dagangannya di pinggir jalan, merejka akan mencari rute perlintasan jalan nasional, jalan provinsi dan hingga jalur utama kabupaten/kota.

“Istilahnya sambil lintas, tanpa waktu (berhenti) lama, kita layani,” ujarnya.

Dalam berjualan, ia bersama rekan-rekannya termasuk luwes. Ragam produk buah-buahan lokal dan impor, telah ia jajakan untuk memenuhi permintaan konsumen. “Sebelumnya kami jualan mangga, dukuh, apel, tapi saat ini memang sedang musim anggur,” ungkap dia.

Rohmat, 43 tahun, salah seorang pedagang lokal asal Garut mengaku, tidak terusik dengan kedatangan migrasi pedagang musiman buah-buahan asal Cirebon itu. Menurutnya, menjadi penjual itu harus siap bersaing dengan yang lain.

“Kan pedagang Garut juga bisa berjualan di sana (Cirebon),” kata dia.

Ia menilai, kemampuan dan kekompakan para jualan musiman asal kota terasi itu cukup mumpuni. Selain harganya yang terbilang murah, juga pola persahabatan yang begitu kuat. “Tidak ada saling menjatuhkan, harganya bakal sama,” ujarnya.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *