6-11

Temuan Awal Buktikan Kecanduan Nikotin Bisa Dikendalikan dari Otak

Share this:

Setelah heroin dan kokain, nikotin merupakan zat yang paling adiktif ketiga di dunia. Oleh karenanya, tidak mengherankan bila berhenti merokok seringkali menjadi tantangan yang luar biasa bagi pecandu nikotin.

Berangkat dari hal itu, sejumlah ilmuwan dari Universitas Rockefeller mencari jalan lain untuk mengendalikan ketergantungan terhadap nikotin.

Diuraikan dalam jurnal PNAS, mereka mendapati bahwa dua daerah otak kecil, yakni medial habenula dan interpeduncular nukleus (IPN), sangat responsif terhadap nikotin. Keduanya terletak di otak tengah, bagian otak tua vertebrata dan satu dari banyak fitur otak yang juga dapat ditemui pada tikus.

Medial habenula dan IPN terlibat dalam ketergantungan obat. Keduanya juga mengandung reseptor yang mengikat nikotin setelah memasuki aliran darah dan masuk ke otak.

Saat otak terpapar nikotin, habenula mengirimkan sinyal ke IPN untuk mengurangi efek menyenangkan dari nikotin. Respons tersebut membuat asupan nikotin jadi terbatasi.

Namun, bila telah kecanduan, respons tersebut akan menurun dan membuat Anda ingin merokok lebih banyak lagi.

Para ilmuan lantas menggunakan tikus sebagai medium untuk mengetahui perubahan neuron. Hewan pengerat itu diberi air minum yang mengandung nikotin selama enam pekan.

Ternyata, paparan nikotin secara kronis mengubah sekelompok neuron yang mereka namakan Amigo1. Sel-sel ini melepaskan dua neurotransmiter berbeda yang menumpulkan sinyal dari habenula.

“Jika Anda terpapar nikotin untuk waktu yang lama, Anda akan menghasilkan lebih banyak zat kimia yang mengganggu sinyal dan ini membuat Anda jadi tidak sensitif,” kata neurologis Ines Ibanez-Tallon dari Universitas Rockefeller, dilansir Science Alert pada Kamis (28/12/2017).

Para neurolog kemudian merekayasa salah satu gen yang menghasilkan reseptor nikotin pada Amigo1 dan melakukan tes pengkondisian terhadap tikus.

Tikus yang kecanduan nikotin ditempatkan di lingkungan di mana mereka dapat memilih untuk pergi mendapatkan air nikotin atau ke tempat lain.

Hasilnya, tikus yang telah kehilangan neuron Amigo1-nya tidak menunjukkan preferensi terhadap nikotin, sementara teman mereka yang sudah kecanduan terus kembali meminum air nikotin.

Meski baru dicobakan pada tikus, para neurolog yakin dapat mempelajari sesuatu untuk mengendalikan kecanduan nikotin. Selanjutnya, mereka akan bergerak lebih jauh dengan memanipulasi neuron Amigo1.

“Apa yang dikatakan semua ini adalah bahwa jalur habenula-IPN penting untuk merokok pada manusia,” kata Ibanez-Tallon.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *